Langsung ke konten
Berita

Manajemen Minta Dikaji Ulang, Taman Rekreasi Selecta Sejak 2016 Tak Putar Lagu, Kebijakan Dinilai Memberatkan

2 menit baca
14x dibaca
AD 728x90 — Landscape
Bagikan:
Manajemen Minta Dikaji Ulang, Taman Rekreasi Selecta Sejak 2016 Tak Putar Lagu, Kebijakan Dinilai Memberatkan

MALANG NEWS – Berkaitan dengan UU Royalti lagu dan musik dinilai memberatkan, setidaknya hal itu…

MALANG NEWS – Berkaitan dengan UU Royalti lagu dan musik dinilai memberatkan, setidaknya hal itu seperti yang dirasakan oleh pengelola maupun owner dan juga pihak manajemen beberapa destinasi wisata, terutama di Kota Batu.

Pasalnya, terkait dengan kebijakan dari Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), mengharuskan pembayaran royalti musik.

Baca Juga
Warga Pasuruan Berhasil Diamankan Satreskrim Polres Batu, Diduga Curi Uang Rp 5 Juta

Warga Pasuruan Berhasil Diamankan Satreskrim Polres Batu, Diduga Curi Uang Rp 5 Juta

Berita

Tak pelak, karuan saja hal itu dirasakan dampaknya oleh para pelaku pariwisata di Kota Batu.

Setidaknya, hal itu yang juga dirasakan oleh manajemen Taman Rekreasi Selecta, yang sejak 2016 memutuskan tidak memutar musik apapun.

Direktur PT Selecta, Drs. Pramono, menyampaikan, jika pihaknya untuk sementara waktu menghentikan dengan tidak memutar musik.

Baca Juga
12 Pedagang Pasar Induk Among Tani Diperiksa Kejari Batu, Nantinya Bakal Periksa Pihak Lain

12 Pedagang Pasar Induk Among Tani Diperiksa Kejari Batu, Nantinya Bakal Periksa Pihak Lain

Berita

“Sebenarnya kalau untuk musik di Selecta bukan hal yang utama, melainkan hanya sebagai pelengkap fasilitas saja,” ujarnya kepada awak media, pada Minggu (17/8/2025).

Menurutnya, keputusan yang diambil pihak Manajemen Selecta bukanlah untuk berfokus pada musik semata.

“Ya, itu karena sebagian wisatawan yang berkunjung tujuannya hanya mencari ketenangan, jadi musik tidak berpengaruh,” ungkapnya.

Baca Juga
Korban Terpeleset di Sungai Ratusan Warga Kaliputih Antar ke TPU

Korban Terpeleset di Sungai Ratusan Warga Kaliputih Antar ke TPU

Berita

Dirinya menambahkan, bahwasanya royalti yang dihitung berdasarkan dari jumlah pengunjung yang datang ke Selecta.

“Dimana hal itu secara otomatis membuat beban finansial yang besar. Misalnya saja, Selecta dikunjungi wisatawan yang berjumlah 100 orang, wisatawan dengan harga tiket masuk Rp 50 ribu, maka perhitungan kami bisa mencapai Rp 65 ribu, itu untuk per harinya ya. Jadi, dalam kurun waktu setahun sudah berapa? Karena nilainya cukup besar,” paparnya.

Meski pihak Selecta memberikan diskon sebesar 20 persen, kepada para wisatawan yang berkunjung, namun tentunya juga masih belum menutupi income yang masuk.

“Ya, walaupun demikian tidak serta merta mengurangi occupancy jumlah wisatawan yang berkunjung, karena Selecta sudah terkenal dengan image sebagai wisata rakyat yang murah meriah,” urainya.

Selain itu, Selecta juga dikenal publik baik wisatawan domestik dan mancanegara sebagai ikon taman wisata bunga yang didukung dengan cuaca yang sejuk dan udara alam pegunungan yang segar.

“Selecta menjadi tujuan favorit bagi keluarga, dan itu juga telah dikenal sejak lama mulai tahun 1950, waktu zaman Belanda dahulu juga Selecta sebenarnya sebuah hotel dengan nama Bath Hotel Selecta, kolam renangnya sebagai bagian dari fasilitas,” ungkapnya.

Masih berkaitan dengan royalti, pihaknya berharap agar LMKN mengkaji ulang kebijakan yang dimaksud agar tidak membebani para pelaku wisata di Kota Batu.

“Maka dari itu, tentunya harapan kami berkaitan dengan kebijakan LMKN untuk dapat direvisi, agar lebih adil, sebab disini tidak setiap hari selalu ramai pengunjung, hanya di musim liburan tertentu saja,” pungkasnya. (Nda)

AD 728x90 — Landscape
E

Ditulis oleh

Edo Rabmadhani

Aktifkan Notifikasi

Dapatkan update berita terbaru langsung di browser Anda.