Langsung ke konten
Berita

Peringatan Hari Kusta Sedunia atau World Leprosy, dr. Susan: Bertepatan Minggu 28 Januari 2024

3 menit baca
52x dibaca
AD 728x90 — Landscape
Bagikan:
Peringatan Hari Kusta Sedunia atau World Leprosy, dr. Susan: Bertepatan Minggu 28 Januari 2024

MALANG NEWS – Penyakit kusta merupakan golongan adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan…

MALANG NEWS – Penyakit kusta merupakan golongan adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, dan saluran pernapasan. Kusta umumnya dapat ditangani dan jarang menyebabkan kematian.

Namun, penyakit kusta berisiko menyebabkan cacat. Hal ini membuat pasien kusta berisiko mengalami diskriminasi yang dapat berdampak pada kondisi psikologisnya.

Baca Juga
Warga Pasuruan Berhasil Diamankan Satreskrim Polres Batu, Diduga Curi Uang Rp 5 Juta

Warga Pasuruan Berhasil Diamankan Satreskrim Polres Batu, Diduga Curi Uang Rp 5 Juta

Berita

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinas Kesehatan Pemerintah Batu, dr. Susana Indahwati menjelaskan, sebagai penyakit kelompok Neglected Desease (Penyakit Terabaikan), penyakit kusta perlu mendapatkan perhatian khusus.

“Peringatan Hari Kusta Sedunia bertujuan untuk menciptakan kesadaran terhadap stigma yang melekat pada penyakit ini. Yakni dengan menyadarkan, bahwa kusta adalah penyakit yang disebarkan oleh sejenis bakteri dan dapat disembuhkan, jadi bukan disebabkan oleh kutukan, guna-guna, makanan atau penyakit keturunan seperti yang masih banyak timbul anggapan di masyarakat,” terangnya kepada awak media, pada Minggu (28/1/2024).

Dirinya menambahkan, Hari Kusta Sedunia 2024 ini mengusung tema “Beat Leprosy” atau “Kalahkan Kusta”. Tema ini dipilih dengan dua tujuan, yakni menghapuskan stigma yang melekat pada kusta dan meningkatkan martabat orang yang terkena penyakit tersebut.

Baca Juga
12 Pedagang Pasar Induk Among Tani Diperiksa Kejari Batu, Nantinya Bakal Periksa Pihak Lain

12 Pedagang Pasar Induk Among Tani Diperiksa Kejari Batu, Nantinya Bakal Periksa Pihak Lain

Berita

“Tema “Beat Leprosy” berfungsi sebagai pengingat yang kuat akan perlunya mengatasi aspek sosial dan psikologis penyakit kusta, di samping upaya medis untuk menghilangkan penyakit tersebut. Tema ini menyerukan kepada dunia, agar kusta tidak lagi menjadi sumber stigma, melainkan sebuah kesempatan untuk menunjukkan belas kasih dan rasa hormat kepada semua individu,” imbuh dr. Susan sapaan akrabnya.

Meskipun Kota Batu bukan merupakan daerah endemis kusta, masih kata dr. Susan, setiap tahun masih ditemukan 1-3 orang penderita kusta baru. Angka kunjungan Kota Batu yang tinggi, serta pengiriman produk pertanian keluar Kota Batu interaksi penduduk dengan warga berbagai kota menjadi potensi masih bisa munculnya penyakit ini.

“Kusta merupakan penyakit menular yang tidak mudah menular. Meskipun demikian, Dinas Kesehatan Pemerintah Batu tetap berusaha melakukan upaya deteksi ini, melalui kerjasama penemuan kasus dengan dokter spesialis kulit di semua rumah sakit di Kota Batu, serta pemberian edukasi Cardinal Sign Kusta bercak kulit mati rasa, penebalan saraf disertai gangguan fungsi serta hasil pemeriksaan skin smear positif kepada masyarakat. Puskesmas di Kota Batu mampu melakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk diagnosa kusta dengan didampingi Dinas Kesehatan. Pengobatan kusta gratis di seluruh puskesmas se-Kota Batu,” papar dr. Susan.

Baca Juga
Korban Terpeleset di Sungai Ratusan Warga Kaliputih Antar ke TPU

Korban Terpeleset di Sungai Ratusan Warga Kaliputih Antar ke TPU

Berita

Menurutnya, kusta disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae), yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lainnya. Kusta yang merupakan penyakit menular, menahun terbagi menjadi 2 jenis, yaitu kusta kering PB: Pausi Basiler atau kuman sedikit dan kusta basah MB: Multi Basiler atau kuman banyak.

“Kusta bukan peyakit karena kutukan, makanan maupun keturunan. Penularan kusta dapat terjadi, karena penderita kusta yang tidak diobati kepada orang lain yang kontak lama dengan penderita, biasanya pada orang yang tinggal serumah atau tetangga dekat melalui pernapasan udara. Tidak semua orang serta merta tertular kusta begitu kontak dengan penderita. Secara statistik hanya 5 persen saja yang akan tertular. Sebagai ilustrasi, dari 100 orang yang terpapar, 95 persen diantaranya tetap sehat, 3 persen tertular dan sembuh sendiri tanpa obat, sedangkan 2 persen lainnya menjadi sakit dan perlu pengobatan,” ungkap dr. Susan.

Meski demikian, lanjut dr. Susan, penularan dari penderita kusta yang tidak diobati kepada orang lain yang kontak lama dengan penderita, biasanya pada orang yang tinggal serumah atau tetangga dekat melalui pernapasan.

“Karena itu penyakit kusta dapat dikatakan penyakit menular yang sulit menular. Pemeriksaan fungsi saraf setiap bulan sebagai upaya dari mencegahan kecacatan,” pungkasnya. (Zul)

AD 728x90 — Landscape
E

Ditulis oleh

Edo Rabmadhani

Aktifkan Notifikasi

Dapatkan update berita terbaru langsung di browser Anda.